Tangan yang Menganyam Senja

Opinion
20 Sep 2026 • 8:30 AM MYT
Media Selangor
Media Selangor

Berita dan isu semasa, inklusif untuk semua.

Tangan yang Menganyam Senja

Oleh Diviya Devaraj

Ilustrasi Muizzah

Di celah jemari yang direkah usia,

benang-benang petang masih dipujuk menjadi cahaya;

setiap simpulan adalah doa yang enggan tanggal

daripada nadi yang tidak pernah lupa asal.

Sejarah tidak pernah rebah dengan bunyi.

Ia luruh perlahan

di hujung kuku seorang tua

tekun menganyam sisa-sisa harinya

menjadi tikar kenangan.

Anak-anak mewarisi kota bercermin langit,

tetapi tidak lagi fasih

membaca bahasa rotan, benang dan kayu.

Jemari itu belajar berdamai dengan sunyi,

seperti sungai yang tidak lagi mengenal muara.

Sesekali angin menyelongkar bengkel usang,

mengangkat bau damar, buluh dan serbuk kayu;

seakan-akan waktu masih duduk bersila,

menunggu seseorang

yang tidak pernah benar-benar pulang.

Senja tidak selalu tiba bersama matahari tenggelam.

Kadang-kadang ia hadir

pada payah menggenggam harapan,

tatkala dunia lebih percaya kepada bunyi mesin

daripada tangan manusia.

Apabila tangan itu terkulai,

bukan sekadar seorang tukang yang pergi.

Bersama hela nafas akhirnya,

terlipat helaian warisan

yang tidak sempat diajarkan kepada waktu.

View Original Article
Newswav Malaysia Best News App

Newswav is an online content aggregator and obtains its content from different online sources. The content in the app do not belong to Newswav nor do they reflect the opinions of Newswav and its staff. Your use of this app indicates your understanding and acceptance of this information.

Newswav Sdn. Bhd. (201701008480 (1222645-M)) 2026 All Rights Reserved